Aku terkejut saat tersadar, ternyata baru kemarin percakapan via telepon yang dibumbui tangis histeri. Rasanya telah seminggu dan ini bukan kias atau metafora seperti kebanyakan lagu.
Rasanya benar-benar seperti telah seminggu. kesadaranku soal waktu mengabur.
Bagaimana tidak? Jika sehari-harinya saja aku terbiasa bercanda, tertawa, bercerita, dan bersukaria denganmu; kini sehari tanpamu, pun kabar darimu. Aku kesepian.
Baru siang tadi aku menangis di parkiran kampus sesaat setelah kendaraanku terparkir. Tangisan yang telah kutahan semenjak di jalan.
Aku harus menjaga kesadaranku selama mengemudiagar pandanganku tidak buram oleh air mata yang memupuk mata, maka kutahan tangisku sejadi-jadi.
Begitu tiba, mataku sudah tak mampu membendung banjiran air mataku, pun hatiku bergemuruh; jantungku bertabuh kencang membuat dada ini ngilu bukan main.
"Aku rindu kamu," kataku setengah menjerit di sela tangisanku.
"Aku ingin kamu," begitu lagi kataku.
Aku berharap ditolong, namun tak ada yang menolong.
Selalu begitu, pikirku:
Setiap kali patah hati hebat melanda, aku selalu sendirian tanpa tempat berkeluh kesah. Aku ketakutan akan berpikir tentang kematian.
Aku ingin kau datang.
Aku ingin kau selamatkan.
©Aksaramerta
05/12/18 (11.10 p.m)
WITA