"Janji?" Katamu suatu ketika sambil menyodorkan jari kelingkingmu ke hadapanku.
"Iya, janji." Balasku sambil tersenyum, kemudian mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingkingmu.
Waktu itu gelap, tapi aku bisa melihatmu tersenyum.
Setelah itu diam, kembali pada kesibukan masing-masing.
Kau sibuk dengan kemudimu, sedang aku sibuk dengan pikiranku.
Sebelumnya aku tak pernah membuat janji pada seseorang yang terhitung baru kukenal.
Lucunya, hari itu aku melakukannya, bahkan berusaha untuk menepatinya.
Aku mengingatnya dengan sangat baik.
(Aksaramerta, 2017)


