bukan hanya tentang aku atau kamu.
Diam-diam aku sangat berharap bahwa mukjizat itu benar-benar ada;
menyentuh segala golongan, bahkan yang tergelap.
Diam-diam aku berharap waktu berputar kembali di saat entah;
sebelum cawan terisi atau sebelum menenggak isinya.
Diam-diam aku merasa sedih dan malu, bahkan pada tuhanku sendiri;
yang tiba-tiba menjadi khusyu berdoa dan memohon.
Diam-diam aku sangat mensyukuri dan penuh akan kebanggaan;
aku dekat dan mengenalmu.
Diam-diam aku menatapmu dengan mata penuh binar
sambil hatiku penuh harap pada Sang Mahaku;
saat itu kau tak menyadari karena membelakangiku.
Diam-diam aku yang pelupa ini teringat dengan sangat detail tentang awal pertemuan;
entah yang pertama, entah yang kedua.
Diam-diam aku yang arogan ini sangat penuh syukur;
saat itu aku tidak angkuh seperti biasanya.
Diam-diam aku selalu menyelipkan doa pada setiap peluk yang kuberikan;
"semoga selalu dapat seperti ini," kataku.
©Aksaramerta
12/08/18 (4.36 p.m)
WITA
WITA