Aku ingin jadi manusia merdeka
Yang lepas dari segala siksa
Yang tak disandera prasangka
Aku ingin jadi manusia merdeka
Tidak terkungkung nestapa
Apalagi tunduk pada derita
Aku ingin jadi manusia merdeka
Bukannya jadi budak cinta
Lalu tak berdaya dalam drama
Aku ingin jadi manusia merdeka
Yang bebas jadi bahagia
Yang tak melulu merana
©Aksaramerta
19/02/17 09:32:15
WITA
Minggu, 19 Februari 2017
Jumat, 03 Februari 2017
Surat Untuk "Kamu"ku
Rasanya lama sekali, ya, tak kutemui kalimat rindumu untukku.
Bagaimana kabarku adalah gamang.
Aku senang karena merasa ada yang akan menggantikan takhtamu di hatiku. Artinya aku tak akan lagi terus terbayang kamu dan melulu habiskan sendiri dalam memori penuh emosi, tapi membayangkan hal-hal indah macam apa yang akan aku lalui bersamanya justru membuat sedihku makin dalam.
Rasanya teramat berat menggantikan namamu dengan namanya di hati. Seperti ada ketidak-relaan yang pahit. Pasalnya aku tahu bahwa dia tidak sama denganmu. Tentu saja, dia bukan kamu. Hanya, aku sadar, yang ini akan sama sekali berbeda. Sedikit pun tak akan sama. Tidak akan pernah. Sedang caramu adalah yang paling aku sukai. Mengingat dan menyadarinya adalah kepedihan yang sangat.
Aku suka setiap caramu memperlakukanku. Aku juga suka caramu menikmati tiap
apa yang aku sampaikan.
Kamu bukan hanya pendengar, tetapi juga pengritik yang baik. Kamu tidak hanya diam dan mengiyakan pada apa saja yang aku katakan, tapi juga mengoreksinya, memberiku saran dan masukan yang luar biasa untuk menjadi lebih baik kedepannya. Memberiku pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-penyataan yang dapat memancing pikiran-pikiran liar dan gilaku untuk tak ragu kuutarakan. Kamu tidak hanya pandai berkata demi membuat warna merah-padam di pipiku, tapi juga berbicara, menjelaskan, mengajariku tentang sesuatu yg sebelumnya tidak aku tahu. Kamu bukan hanya teman untuk bercanda membicarakan hal-hal konyol dan remeh-temeh kemudian tertawa bersama, tapi, hey, kita juga membicarakan hal-hal serius, bahkan sampai berdebat hebat dan tetap bisa kembali lembut setelahnya.
Ya, setidaknya, begitulah kesanku tentangmu.
Ah, tak cukupkah kau membuatku merasa sebagai pecundang dengan terus mengingatmu dan membanding-bandingkan setiap orang denganmu?
Aku merasa kalah! Aku merasa lemah dengan membanding-bandingkanmu dengannya. Itu memberikan kesan bahwa aku tidak mampu mencari yang lebih baik darimu, bahkan yang setara denganmu pun tidak. Ah, membuatmu bertahan padaku saja, aku tidak bisa dan itulah kenyataannya.
"Kamu"ku, kamu sedang apa? Adakah merindui aku?
"Kamu", ke sini..
Karena aku sedang rindu. Sangat rindu.
Banyak hal ingin kubagi denganmu, bahkan dari tepat sehari setelah hari terakhir pertemuan kita; Tentang apa yang telah aku lewati, tentang apa yang telah aku dapatkan, tentang apa saja. Aku ingin menceritakannya padamu, ingin mendengar pendapat lewat sudut pandangmu, lalu menikmati indahnya pikiranmu. Aku hanya ingin membaginya denganmu. Kurasa hanya kau yang akan paling mengerti tentang apa saja yang akan aku sampaikan. Selain itu, sudah kujelaskan bahwa aku suka bagaimana kau menikmati dan caramu menanggapi pada setiap apa yang aku sampaikan. Aku suka caramu mengutarakan isi pikiranmu.
Ringkih, rapuh, rawan..
Aku bahkan nyaris rusak.
© Aksaramerta
03/02/2017 01:47:20
WITA
Langganan:
Komentar (Atom)