Selasa, 15 Oktober 2013

Cerita Pagi Ini

Rasanya baru tadi malam aku yakin bahwa aku bisa melupakanmu. Nyatanya? Omong kosong! Hanya sebuah kata tanpa pengaplikasian.
Pagi tadi, seperti hari-hari sebelumnya, aku kembali merindukanmu. Bukan.  Maksudku, aku tak hanya rindu, tapi juga resah. Entahlah, bahkan aku sendiri tak begitu paham tentang apa yang ku resahkan darimu.
Aku terlalu menangkap hadirmu, menyimpannya di laci terindah di dalam hatiku yang bertuliskan inisial namamu. Tapi kau, kau bahkan lebih bisa merasakan semilir angin yang tak kasat mata membelai lembut kulitmu, ketimbang merasakan hadirku yang tampak secara visual di sekitarmu.
Kau tahu? Aku bahkan selalu memperhatikanmu. Ku lihat, kau sedang keberatan menanggung beban. Aku tak tahu apa itu. Terlalu takut aku untuk bertanya. Dan hey, mengapa tak kau bagi bebanmu padaku? Aku ingin berada di sana, di sampingmu, untuk ikut menanggung bebanmu. Tapi mungkin kau lupa caranya berbagi? Atau kau benar-benar tak merasakan hadirku?
Aku nyaris menyerah. Aku lelah bahkan ingin sekali untuk berhenti. Tapi selalu, seperti pagi tadi, aku kembali mengingatmu bahkan rindu, setelah malamnya aku yakin bahwa aku akan melupakanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar