Kamis, 29 Agustus 2013

Petrichor


Satu hal yang membangkitkan kenanganku lewat indra pencium.
Namanya Petrichor. Bau khas butir-butir hujan saat jatuh menghempas tanah. Entah, selalu membuat damai dan tenang, setiap kali aku menghirupnya dalam-dalam. Dan entah, selalu mengingatkanku tentang masa itu. Masa dimana bahagia masih menari bersama kita. Rasanya aku ingin sekali menjadi Petrichor bagimu. Agar aku dapat mencapai memorimu saat aku turun menghempas tanah dan membasahi bumi, lalu kau merasakan bauku, bau hujan, yang menguak rindu.
Aku ingin sekali menjadi Petrichor bagimu. Sekedar untuk mengingatkanmu agar segera berteduh dari hujan, atau justru membuatmu berlari ke luar, lalu menari di bawah hujan.
Kau tau? Aku sangat mencintai hujan dan aromanya.
Karna bagiku, hujan bukan hanya tentang hasil peristiwa evaporasi yang menghasilkan presipitasi lalu petrichor. Tapi juga menyangkut perasaan.
Aku selalu menyukai bau hujan. Basah, tapi teduh. Terlebih karena kamu dan bau hujan memiliki persamaan. Ya, itu lebihnya.


Selain tentang hujan, aku juga merindukanmu dengan sangat indah. Seperti Aurora di kutub. Terus bercahaya dalam malam, meski hanya dingin setia mengiringi.