Rabu, 28 Desember 2016

Aversi

Kau hilang setelah suatu malam
Ingat yang kita kakukan dalam temaram?
Di bawah bulan purnama
Kau dan aku seakan lupa dunia
Ah, aku nyaris gila!
Karena kini dunia yang lupa
Jelas saja! Kau hilang!
Entah melanglang seperti bolang
Tapi kujamin aku tak apa
Memangnya kau siapa?
Mampu buat hatiku jadi layu
Bahkan sampai aku termangu
Tak 'kan kubiarkan, dasar kau bajingan!
Kau si tuan tak tahu diri
Si bangsat yang maunya menang sendiri
Yang hampir membuatku mati berdiri!
Tak pantas kau mengaku sejati
Taumu hanya membuat janji
Untuk kemudian jelas kau ingkari



Samarinda, 28 Desember 2016
Pukul 22.45 WITA
© Aksaramerta

Selasa, 20 Desember 2016

Bicara Perempuan

Perempuan itu melawan!
Menghilangkan penindasan,
Juga ketidakadilan.
Jangan cuma berdandan,
Mengurus pakaian,
Lalu drama cinta-cintaan.
Eh, jangan juga cuma modal selangkangan
Dengan wajah rupawan,
Lalu jadi mainan..
Atau simpanan?
Katanya ingin kesetaraan,
Dan bebas dari patriarkisme yang menekan?
Tapi saat ditekan malah memberi pemakluman,
Tanpa ada perjuangan!
Larut dalam konstruksi sosial, kegirangan.



Samarinda, 20 Desember 2016
© Aksaramerta

Jumat, 16 Desember 2016

Sekuel Sajak Larut

Salah siapa menjatuhkan diri?
Benar, salahku terlalu meyakini
Aku merasa dibohongi!
Uh, atau mungkin dibodohi?
Padahal sudah susah payah kudaki
Katanya agar bisa taklukan hati?
Salah, itu hanya buaian mimpi
Dan sekedar isapan jari
Tak semudah itu raih empati!
Salahku yang cepat bersimpati!
Ternyata kau tak bisa kupercayai
Tuk sangga aku yang lena ini
Dan terlalu larut dalam buai
Coba renungi lagi..
Mengapa bisa begini?
Apa ini mimpi?
Aku ingin segera pagi!
Untuk kemudian sadarkan diri
Dan bebas dari mimpi buruk ini




16 Desember 2016
Pukul 00.40 WITA
© Aksaramerta

Rabu, 14 Desember 2016

Korban (katanya)

Tebar sana, tebar sini
Tabur garam lagi
Biar makin perih
Biar makin merintih
Nanti sudah sakit
Heboh jerit-jerit
Disakiti, katanya..
Dilukai, katanya..
Padahal juga ulahnya
Dasar manusia!
Hobinya mengadu domba!



14 Desember 2016
©Aksaramerta

Senin, 12 Desember 2016

Jalang Teriak Jalang

Kebencianmu tak berdasar, sayang!
Pun kecintaanmu terlalu di awang
Sudahkah kau pikirkan matang?
Atau pantaskan kusebut kau jalang?
Apa kau menimbang?
Di mana benderang?
Jangan sebut duniamu terang!
Jika kau sendiri masih bimbang,
Dan batinmu masih berperang
Dengan yakin kau maki 'ku jalang?
Ha ha.. Kau salah, sayang!

Kaulah jalang!



12 Desember 2016
Pukul 16.16 WITA
© Aksaramerta

Kamis, 24 November 2016

Larut

Kau terlampau mampu
Buat 'ku jatuh padamu
Maka sebagai balasmu,
Tolong kau sangga aku
Jangan sampai kau lepas
Nanti aku bisa terhempas
Jatuh ke tanah yang keras
Lalu akan terluka
Dan jadi menderita
Oleh luka yang kau cipta
Maka bisakah kau kupercaya,
Untuk menyangga aku yang lena?



24 November 2016
Pukul 22.01 WITA
© Aksaramerta

Sabtu, 05 November 2016

Dongeng Tentang Kelinci dan Rubah

Aku punya sebuah dongeng.
Dongeng tentang kelinci dan rubah.
Tentang kisah cinta dalam beda.
Jadi, ada seekor kelinci betina dan rubah jantan.
Mereka saling jatuh cinta.
Hanya saja, si rubah selalu merasa rendah diri
dan cemburu pada kelinci-kelinci jantan.
Dasarnya karena mereka memang berbeda.
Kelinci diyakini melambangkan kesucian dan keluguan,
sedang rubah diyakini sebagai lambang penjelmaan siluman jahat.
Walau demikian, kelinci betina yakin
bahwa si rubah adalah cintanya,
namun rubah merasa ragu dan cemburu.
Kecemburuannya disimpannya dalam-dalam,
membuat kelinci betina kebingungan.
Yang rubah katakan hanya "kamu tidak cintaiku".
Kelinci betina lalu patah hati dn bersedih dalam kebingungannya.
Bagaimana bisa ia tidak cinta padahal ia rela
menentang mitos yang selama ini diyakini?
Walau sedih, ia tetap percaya bahwa rubah salah.
Cinta bukanlah tentang kelinci-kelinci jantan.
Baginya, cinta adalah si rubah.



5 November 2016
Pukul 5.40 WITA
© Aksaramerta

Senin, 24 Oktober 2016

Cadung (Rindu)

Tuan,
Seharusnya kau tidak menanam
Bibit-bibit rindu di setiap pertemuan
Padahal kau tahu,
Setelahnya kau selalu tidak bisa
Memetik buahnya tepat waktu
Bahkan sampai ia layu
Wahai tuan,
Asal tahu saja..
Rindu itu sungguh liar
Dan ia tumbuh sangat cepat



Samarinda, 24 Oktober 2016
© Aksaramerta

Minggu, 25 September 2016

Seharusnya?

Aku tidak mengerti bagaimana seharusnya air.
Orang-orang bilang, itu seharusnya mengalir.

Aku tidak mengerti bagaimana seharusnya bintang.
Orang-orang bilang, itu seharusnya cemerlang.

Pun aku tidak mengerti bagaimana seharusnya kita.
Orang-orang bilang..
Ah, siapa peduli apa yang orang bilang?

Aku tidak.
Namun sepertinya kau begitu peduli!
Kau takut mendengar caci..

Lalu aku sendiri kembali tak mengerti,
Apa seharusnya kita seperti ini?




Samarinda, 25 September 2016
© Aksaramerta

Selasa, 02 Agustus 2016

Bukan Cinderella

Nyatanya aku bukan Cinderella
Labu itu tak pernah berubah menjadi kereta
Sepatu kaca itu tak pernah kutinggalkan
di halaman istana;
Itu tak pernah ada..
Pun kau tak pernah jadi pangeran
yang menyelamatkanku dari nestapa
Bahkan setelah jam dua belas malam,
aku tetap sama;
Upik abu yang memimpikan itu semua nyata..



Samarinda, 2 Agustus 2016
© Aksaramerta

Selasa, 05 Juli 2016

SETELAH. (baca: Setelah Titik)

Kugurat pena di atas kertas
Merangkai apa yang terlintas
Kata-kata bak pujangga
Yang kuukir kala langit jingga

Ini bukan tentang perpisahan
Hanya mengundi kepastian
Kupikir masih akan bersambung
Sebab sampai sini masih menggantung,
Namun..

Tetap menerka apakah ini akhir
Atau masih akan ada yang terlampir
Nyaris lupa titik tak selalu berarti penutup
Karena satu kalimat tak mungkin cukup

Coba jelaskan agar tak makin larut
Tapi di sini masih saja kusut
Namun apakah huruf masih berkutik
Bahkan setelah puluhan titik.



5 Juli 2016
© Aksaramerta

Senin, 20 Juni 2016

Parasit Kusut

Datang padaku hanya saat kau butuh saja.
Cari aku hanya saat kau perlu saja.
Siapa aku?
Ya, aku bukan siapa-siapa,
Kecuali hanya pemenuh kebutuhan dan keperluanmu saja.
Kau tak paham?
Tidak apa, pelan-pelan saja.
Mari pikirkan ulang.
Kau bosan, datang padaku.
Kau sepi, lalu kau cari aku.
Kau ingin perhatian, bahagia, mudah saja;
Ada aku.
Jadi, kau sudah paham?
Ah, kurasa sangat paham.
Bahkan tanpa berpikir ulang.
Naifnya aku!



Samarinda, 20 Juni 2016
© Aksaramerta

Sabtu, 18 Juni 2016

Elegi Tentang Jarak

Apa yang dapat diandalkan saat justru jarak yang ada di depan mata, bukannya kamu?
Apa yang dapat digunakan untuk melawan jarak yang sedang punya kuasa?
Kalau aku, seharusnya itu komunikasi.
Tapi bahkan komunikasi tak mampu.
Tapi bahkan komunikasi menyerah pada sang jarak yang maha kuasa.
Atau kau sendiri yang melemahkannya,
Lalu bersekongkol dengan jarak untuk mendorongku semakin jauh?
Atau bahkan kau selicik itu membunuh komunikasi, mengambinghitamkan jarak, lalu menenggelamkanku?
Kau tahu rasanya tenggelam?
Sesak!



Samarinda, 18 Juni 2016
© Aksaramerta

Rabu, 08 Juni 2016

Afeksi

Tak berharap menjadi sesuatu yang mewah.
Aku hanya butuh menjadi sesuatu yang tenang.
Seperti air tanpa arus, seperti angin sore yang berhembus.
Melihatmu, aku mendapatkannya.
Di wajahmu, aku melihat air muka yang tenang.
Namun aku takut membuat riak.
Maka aku hanya memperhatikanmu dari jauh
Dan ikut menjadi sesuatu yang tenang.
Bersamamu di tempat terpisah,
Aku berusaha mengimbangimu...



Samarinda, 8 Juni 2016
© Aksaramerta

Jumat, 03 Juni 2016

Perang Batin

Aku selalu suka caramu merasa bersalah,
Kemudian meminta maaf.

Aku selalu suka caramu menunjukkan sesal,
Kemudian, lagi, meminta maaf.

Tapi aku benci melihatmu merasa bersalah,
Lalu meminta maaf.

Tapi aku benci melihatmu menyesal,
Lalu, lagi, meminta maaf.

Apakah kamu juga suka caraku menganggap semua normal, tak ada yang salah, dan berkata bahwa tak seharusnya kamu meminta maaf?

Ataukah kamu juga benci caraku bersikap seolah semua baik-baik saja, itu bukan kesalahanmu, dan kamu tak bersalah?

Aku selalu suka caramu merasa bersalah dan menyesal.
Membuatku merasa berarti,
Membuatmu terasa rendah hati.

Di sisi lain,
Aku selalu benci melihatmu merasa bersalah dan menyesal.
Merasa itu keegoisanku,
Terasa itu melemahkanmu.

Aku suka sekaligus benci melihatmu
Merendahkan dirimu dan meminta kepadaku.




Samarinda, 3 Juni 2016
© Aksaramerta

Senin, 23 Mei 2016

Keraguan

Suka itu apa?
Aku kira itu kamu
Tapi katamu itu bukan

Rindu itu apa?
Aku pikir itu kamu
Tapi katamu itu bukan

Sayang itu apa?
Aku rasa itu kamu
Tapi, lagi-lagi, katamu itu bukan

Cinta itu apa?
Aku masih yakin itu kamu
Tapi, masih saja, katamu itu bukan

Lantas itu apa?
Aku bertanya.
Jawabmu, itu dia.

Aku patah
Kamu salah
Itu benar kamu




Samarinda, 23 Mei 2016
© Aksaramerta

Jumat, 13 Mei 2016

Negeriku

Negeriku ini negeri paranoid

Tidak bisa dengar isu

Langsung heboh begitu

Negeriku ini negeri paranoid

Ada hal yang sedang ribut

Langsung kalang-kabut




13 Mei 2016
© Aksaramerta

Selasa, 10 Mei 2016

Ungkit

Mungkin rakyat negara ini tidak boleh pintar
Mungkin rakyat negara ini tidak boleh kritis
Sebab akan sulit disetir

Siapa yang kritis, akan dibungkam
Siapa yang kritis, akan dihantam

Mereka para pemikir cuma boleh diam
Melihat orang-orang dibuai dongeng

Mereka para pejuang cuma boleh dian
Melihat orang lainnya menyebar dongeng

Yang berpikir dianggap penghasut
Yang melawan dianggap pengkhianat

Ah, mungkin hanya perasaanku saja
Daripada aku dibungkam
Daripada aku dihantam



10 Mei 2016
© Aksaramerta

Minggu, 06 Maret 2016

Pasrah

Sudahlah..
Nyatanya kita memang tak mungkin berjodoh.
Waktu kita tak pernah tepat.
Kita tak pernah bertemu.
Aku lelah menutup telinga dari suara takdir yang berteriak bahwa ini sia-sia.
Aku lelah terus berjalan mencari terang di kegelapan tiada akhir.
Aku hanya ingin tenang,
Atau sunyi..
Tapi ya sudahlah.
Sepertinya takdir punya nyanyian lain yang lebih indah yang bisa kudengar,
Jalan lain yang lebih terang dan bersinar.
Aku tak perlu menutup telinga,
Atau berjalan di dalam gelap.

Senin, 22 Februari 2016

Surat Untuk N

Aku ingin kau tahu, bahwa sampai saat ini masih kamu.
Tidak dia, tidak mereka, tidak yang lain; Masih tetap kamu. 
Selepas dia, kau tetap tidak padaku. Tetap tidak bagiku. Tidak untukku.
Kadang aku merasa aku sudah benar-benar ikhlas. Kadang aku merasa aku sudah benar-benar tulus.
Tapi tidak.
Ternyata aku masih berharap imbalan. Masih berharap balasan. Masih berharap sambutan.
Aku tahu rasa ini tak akan kau sambut. Kau pun tahu. Bahkan mereka.
Mereka yang menonton kisah kita; Yang menonton kisah aku.
Menonton aku yang diam-diam perih. 
Menonton aku yang menangis-merintih.
Menonton aku yang menjerit tertahan agar tak terdengar.
Aku yang ternyata sangat lemah.
Sungguh baru kamu;
Baru kamu yang membuat batin dan logikaku berperang hebat.
Baru kamu yang membuatku merasa betapa menyedihkannya aku.
Ya, karena jika itu tentangmu, entah mengapa aku langsung merasa bahwa aku sangat menyedihkan.
Apa pun yang tentangmu selalu membuatku sangat sensitif.
Sangat rentan. Seperti kaca. Rapuh.