Selasa, 15 Oktober 2013

Cerita Pagi Ini

Rasanya baru tadi malam aku yakin bahwa aku bisa melupakanmu. Nyatanya? Omong kosong! Hanya sebuah kata tanpa pengaplikasian.
Pagi tadi, seperti hari-hari sebelumnya, aku kembali merindukanmu. Bukan.  Maksudku, aku tak hanya rindu, tapi juga resah. Entahlah, bahkan aku sendiri tak begitu paham tentang apa yang ku resahkan darimu.
Aku terlalu menangkap hadirmu, menyimpannya di laci terindah di dalam hatiku yang bertuliskan inisial namamu. Tapi kau, kau bahkan lebih bisa merasakan semilir angin yang tak kasat mata membelai lembut kulitmu, ketimbang merasakan hadirku yang tampak secara visual di sekitarmu.
Kau tahu? Aku bahkan selalu memperhatikanmu. Ku lihat, kau sedang keberatan menanggung beban. Aku tak tahu apa itu. Terlalu takut aku untuk bertanya. Dan hey, mengapa tak kau bagi bebanmu padaku? Aku ingin berada di sana, di sampingmu, untuk ikut menanggung bebanmu. Tapi mungkin kau lupa caranya berbagi? Atau kau benar-benar tak merasakan hadirku?
Aku nyaris menyerah. Aku lelah bahkan ingin sekali untuk berhenti. Tapi selalu, seperti pagi tadi, aku kembali mengingatmu bahkan rindu, setelah malamnya aku yakin bahwa aku akan melupakanmu.

Rabu, 04 September 2013

Siang? Malam? Bukan, diantaranya..

Langit begitu indah saat mentari berucap selamat tinggal dan bersapa dengan para penghuni langit malam. Warnanya begitu elok dengan jingganya.
Namanya senja..
Sayangnya, senja hanya hadir sekilas diantara siang dan malam.
Kau tau mengapa aku begitu memuja senja lebih dari siang dan malam? Bukankah keduanya lebih terasa ada untuk memenuhi hari?
Tapi, senja yang singkat lebih mampu menghangatkan dan meluluhkan hati yang kaku karna luka, dengan indahnya.
Ya, sama sepertimu. Meski hadirmu di hariku cukup singkat, namun lebih dari cukup memberi ketenangan. Kau tau kenapa?
Karna kau indah, seperti senja.
Dan yang lainnya, percayalah, mereka hanya siang dan malam, yang meski dapat memenuhi hari, namun tak dapat mengalahkan idahmu untukku, senjaku.

Kamis, 29 Agustus 2013

Petrichor


Satu hal yang membangkitkan kenanganku lewat indra pencium.
Namanya Petrichor. Bau khas butir-butir hujan saat jatuh menghempas tanah. Entah, selalu membuat damai dan tenang, setiap kali aku menghirupnya dalam-dalam. Dan entah, selalu mengingatkanku tentang masa itu. Masa dimana bahagia masih menari bersama kita. Rasanya aku ingin sekali menjadi Petrichor bagimu. Agar aku dapat mencapai memorimu saat aku turun menghempas tanah dan membasahi bumi, lalu kau merasakan bauku, bau hujan, yang menguak rindu.
Aku ingin sekali menjadi Petrichor bagimu. Sekedar untuk mengingatkanmu agar segera berteduh dari hujan, atau justru membuatmu berlari ke luar, lalu menari di bawah hujan.
Kau tau? Aku sangat mencintai hujan dan aromanya.
Karna bagiku, hujan bukan hanya tentang hasil peristiwa evaporasi yang menghasilkan presipitasi lalu petrichor. Tapi juga menyangkut perasaan.
Aku selalu menyukai bau hujan. Basah, tapi teduh. Terlebih karena kamu dan bau hujan memiliki persamaan. Ya, itu lebihnya.


Selain tentang hujan, aku juga merindukanmu dengan sangat indah. Seperti Aurora di kutub. Terus bercahaya dalam malam, meski hanya dingin setia mengiringi.

Jumat, 04 Januari 2013

Mentor Rahasia

Kau tau? Aku sangat menyanjungmu, bahkan ku jadikan kau sebagai mentor kebanggaanku. Aku bersumpah akan menjadi pengagum setiamu. Dulu, dulu sekali, saat aku masih sangat buta tentang menulis..... kau tau? aku sangat payah. tulisanku, buruk sekali. Sampai akhirnya aku mengenal karya-karyamu. Aku kagum. Tulisanmu, begitu hidup, begitu bernyawa, ia mempunyai jiwa yang mengantarkan si pembaca agar turut merasakan apa yang kau tuliskan. Aku ingin sehebat dirimu yang dapat menghipnotis orang-orang dengan tulisanmu, membuat mereka terpesona olehmu, lalu kau semakin terlihat bersinar. Ya, meskipun hingga kini kau belum juga menjadi penulis terkenal. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, kau pasti jadi penulis hebat. karya-karyamu akan dibukukan dan aku akan menemukan kumpulan karyamu di tiap toko buku, lalu orang-orang yang membaca karyamu akan mengagumimu dan karyamu, seperti aku mengagumimu. Aku akan jadi pengagum beratmu, bahkan sebelum kau menjadi penulis besar. Akan ku jadikan koleksi tiap karya-karyamu dan ku tunjukkan pada tiap orang tentang karya sastra bermutu, yaitu karyamu.
Dan hey, kau tau? Bahkan diam-diam aku menjadikanmu sebagai mentorku. Ya, mentor kebanggaanku. Sebenarnya aku ingin secara terang-terangan menjadikanmu mentorku. Tapi, ada satu hal yang membuatku mengurungkannya. Tulisan ini, tentang kekagumanku padamu, tentang betapa aku menyanjungmu dan bangga karna mengenal karya-karyamu, mentor rahasiaku.