Kamis, 21 Desember 2017

Aku

Aku
bintang cemerlang
Bukan
bayang-bayang
Aku
dengan isi
Bukan
hanya opsi
Aku
ini bintang
Bukan
-nya jalang..

Aku
bintang cemerlang
Bukan
bayang-bayang


©Aksaramerta
21/12/17 (2.02 a.m)
WITA

Minggu, 17 Desember 2017

Santiran

Memangnya siapa yang sudi
dijadikan bayang-bayang,
sedang diri sendiri tahu
bahwa dirinya punya sinarnya sendiri;

Bahkan sangat cemerlang



©Aksaramerta
17/12/17 (9.11 p.m)
WITA

Rabu, 13 Desember 2017

Déjà Vu

Kota macam apa
Penuh sesak oleh luka
Pun pada kisah berbeda
Takk belajar pada rasa

Tak 'kan sanggup ulangi
Seret aku pergi
Aku tak hidup di sini
Ragaku ada, jiwaku mati

Perih merintih
Dari letih
Hingga tertatih
Tak juga terlatih


©Aksaramerta
13/12/17 (11.23 p.m)
WITA

Selasa, 31 Oktober 2017

Daluwarsa

Kamu berjalan dengan tertatih
Sambil sesekali pula merintih
Kemudian mengulurkn tangan
Padaku meminta pertolongan

Kupandangi kamu iba
Lalu kusambut penuh suka
Kutarik senyum dengan sengaja
Pertanda datangnya derita;

Untukmu, tentu saja..

Kau datang dengan penuh luka
Yang terbalur di sekujur jiwa
Alih-alih menjadi penyembuh
Hadirku justru membunuh

Mana kupeduli tentang lukamu
Kubiarkan sekarat di depanku
Biar kau tahu rasa
Kasihku sudah daluwarsa



©Aksaramerta
31/10/17 (3.33 a.m)
WITA

Kamis, 22 Juni 2017

Alpa

Langit biru dengan kupu-kupu
Rumput hijau selembut beludru
Alam bernyanyian merdu
Angin meniup hawa syahdu

Dibuai suasana yang melena
Jadi lengah rupa-rupanya
Tak menahu badai menyapa
Membuat langit jadi gulita

Sesadarnya, indah telah pudar
Mentari segan walau untuk berpendar
Hanya petir berlomba bersambar
Diliputi angin menggumpal berputar

Tak lagi berseri-seri dunianya
Badai telah memorak-porandakannya
Tak lagi terang jalan-jalannya
Hanya dalam gelap terus melata

©Aksaramerta
22/06/17 (2.41 a.m)
WITA

Sabtu, 17 Juni 2017

Tak Bertuan

Mampuku hanya termangu
Aku dibuat mati kutu
Sebab rana rajai aku
Dengan selimutkan rasa rindu,
namun..

Rindu ini tak bertuan
Ia tak temui tepian
Terkatung-katung di lautan
Hanya rasai ketersesatan

Lebih dalam selami kisah
Ada panik dalam gelisah
Ditambahi pula resah
Siapa pemilik rindu yang sah?


© Aksaramerta
17/06/17 (12.34 p.m)
WITA

Minggu, 04 Juni 2017

Fenomena Bangsaku

Riuh-ricuh di sana-sini
Menjadi pemandangan sehari-hari
Dari daring hingga luring
Sibuk membuat lawan miring

Apa saja jadi perdebatan
Perbedaan seperti ancaman
Bukan lagi persatuan
Yang terdengar justru "lawan!"

Ada apa dengan perbedaan?
Bukannya selama ini mengidahkan?
Mengapa seperti ingin seragam?
Padahal biasanya kita beragam

Halo? Bangsaku?
Oh, sepertinya salah sambung!
Bukan ini bangsa yang kutahu
Yang keharmonisannya sedang berkabung



Samarinda, 4 Juni 2017
(7.40 p.m)
© Aksaramerta

Sabtu, 03 Juni 2017

Terdistraksi

Lakumu merupa di ruang imajiku
Diteteskan hujan dari awan yang abu
Hingga berbagai tanya memenuhi kepalaku
Apa artinya aku bagimu?

Adakah aku di matamu?
Adakah aku di mimpimu?
Adakah aku mengusik batinmu?
Adakah aku merasuk dalam atmamu?

Kamu menemukan kelemahanku
Dengan mudah menggapai titik terawan dalam diriku
Hingga semuaku menjadi milikmu
Tapi kamu bahkan bukan milikku

Kukutuki kenaifanku
Yang telah salah membaca perangaimu
Hingga dengan yakin kujatuhkan diriku
Namun kau tak di situ untuk menangkapku


© Aksaramerta
03/06/17  13:44:27
WITA

Jumat, 07 April 2017

April

Malam di Aprilku kelam
Segalanya seperti tenggelam
Bahkan bulan jadi sungkan
Memamerkan keindahan

Pagi di Aprilku tak cerah
Manusianya hilang gairah
Hidup bagai tak berarti
Hingga hidup mengandai mati

Waktu semakin berlalu
Langit terus saja kelabu
Bahkan senja tak merah jambu
Ya, begitulah sore di Aprilku

Langit tidak pernah ragu
Menunjukkan dukanya padaku
Dengan awan yang abu
Dan suasana yang sendu

Tak ada cerita suka
Yang bertebar justru duka
Dari langit hingga buminya
Astaga! Aprilku penuh petaka



© Aksaramerta
07/04/17  23:15:27
WITA

Senin, 20 Maret 2017

Lepas

Demi semua yang telah terjadi, aku tak 'kan menangis;
Mengandaikan tentang kita yang telah kau bunuh kisah-kasihnya,
kau matikan cita-cintanya,
dan kau kubur harap-asanya.
Kau harusnya tahu perempuan macam apa aku ini.
Kupastikan kau tahu itu.
Kelak tiba saatnya, kau akan menyesal;
Tersiksa oleh ingatanmu sendiri,
mengutuki semua yang pernah kau lakukan,
merindu apa yang pernah kau anggap sampah,
mengharap kembalinya si aku yang dulu pernah dungu.
Kuyakini kamu, saat itu terjadi, aku tak 'kan menoleh padamu.
Bahkan melirik di ekor mata pun tidak.
Aku lepas!

© Aksaramerta
Samarinda, 20 Maret 2017

Sabtu, 04 Maret 2017

Rindu-Dendamku

Kau tahu rindu?
Ialah belenggu
Yang menuang pilu
Hingga hati beku

Lain lagi dendam
Tiba di saat sendam
Dengan payah kuredam
Namun tak kunjung padam

Kontradiktif tentangmu
Semuanya dari aku
Yang walau tengah merindu
Dendam jua kuampu

O, aku tak paham
Berpikir sampai otak keram
Apa yang terjadi semalam
Hingga hari jadi kelam

Kupikir akulah rumah
Tempat aku-kamu berjamah
Ah, ternyata 'ku salah
Bagimu hanya tempat sampah

© Aksaramerta
04/03/17  21:46:15
WITA

Minggu, 19 Februari 2017

Manusia Merdeka

Aku ingin jadi manusia merdeka
Yang lepas dari segala siksa
Yang tak disandera prasangka

Aku ingin jadi manusia merdeka
Tidak terkungkung nestapa
Apalagi tunduk pada derita

Aku ingin jadi manusia merdeka
Bukannya jadi budak cinta
Lalu tak berdaya dalam drama

Aku ingin jadi manusia merdeka
Yang bebas jadi bahagia
Yang tak melulu merana



©Aksaramerta
19/02/17  09:32:15
WITA

Jumat, 03 Februari 2017

Surat Untuk "Kamu"ku

Hai. Apa kabar?
Rasanya lama sekali, ya, tak kutemui kalimat rindumu untukku.
Bagaimana kabarku adalah gamang.
Aku senang karena merasa ada yang akan menggantikan takhtamu di hatiku. Artinya aku tak akan lagi terus terbayang kamu dan melulu habiskan sendiri dalam memori penuh emosi, tapi membayangkan hal-hal indah macam apa yang akan aku lalui bersamanya justru membuat sedihku makin dalam.
Rasanya teramat berat menggantikan namamu dengan namanya di hati. Seperti ada ketidak-relaan yang pahit. Pasalnya aku tahu bahwa dia tidak sama denganmu. Tentu saja, dia bukan kamu. Hanya, aku sadar, yang ini akan sama sekali berbeda. Sedikit pun tak akan sama. Tidak akan pernah. Sedang caramu adalah yang paling aku sukai. Mengingat dan menyadarinya adalah kepedihan yang sangat.
Aku suka setiap caramu memperlakukanku. Aku juga suka caramu menikmati tiap
apa yang aku sampaikan.
Kamu bukan hanya pendengar, tetapi juga pengritik yang baik. Kamu tidak hanya diam dan mengiyakan pada apa saja yang aku katakan, tapi juga mengoreksinya, memberiku saran dan masukan yang luar biasa untuk menjadi lebih baik kedepannya. Memberiku pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-penyataan yang dapat memancing pikiran-pikiran liar dan gilaku untuk tak ragu kuutarakan. Kamu tidak hanya pandai berkata demi membuat warna merah-padam di pipiku, tapi juga berbicara, menjelaskan, mengajariku tentang sesuatu yg sebelumnya tidak aku tahu. Kamu bukan hanya teman untuk bercanda membicarakan hal-hal konyol dan remeh-temeh kemudian tertawa bersama, tapi, hey, kita juga membicarakan hal-hal serius, bahkan sampai berdebat hebat dan tetap bisa kembali lembut setelahnya.
Ya, setidaknya, begitulah kesanku tentangmu.
Ah, tak cukupkah kau membuatku merasa sebagai pecundang dengan terus mengingatmu dan membanding-bandingkan setiap orang denganmu?
Aku merasa kalah! Aku merasa lemah dengan membanding-bandingkanmu dengannya. Itu memberikan kesan bahwa aku tidak mampu mencari yang lebih baik darimu, bahkan yang setara denganmu pun tidak. Ah, membuatmu bertahan padaku saja, aku tidak bisa dan itulah kenyataannya.
"Kamu"ku, kamu sedang apa? Adakah merindui aku?
"Kamu", ke sini..
Karena aku sedang rindu. Sangat rindu.
Banyak hal ingin kubagi denganmu, bahkan dari tepat sehari setelah hari terakhir pertemuan kita; Tentang apa yang telah aku lewati, tentang apa yang telah aku dapatkan, tentang apa saja. Aku ingin menceritakannya padamu, ingin mendengar pendapat lewat sudut pandangmu, lalu menikmati indahnya pikiranmu. Aku hanya ingin membaginya denganmu. Kurasa hanya kau yang akan paling mengerti tentang apa saja yang akan aku sampaikan. Selain itu, sudah kujelaskan bahwa aku suka bagaimana kau menikmati dan caramu menanggapi pada setiap apa yang aku sampaikan. Aku suka caramu mengutarakan isi pikiranmu.
Ringkih, rapuh, rawan..
Aku bahkan nyaris rusak.



© Aksaramerta
03/02/2017   01:47:20
WITA

Senin, 30 Januari 2017

Pertama



"Janji?" Katamu suatu ketika sambil menyodorkan jari kelingkingmu ke hadapanku.
"Iya, janji." Balasku sambil tersenyum, kemudian mengaitkan jari kelingkingku pada jari kelingkingmu.
Waktu itu gelap, tapi aku bisa melihatmu tersenyum.
Setelah itu diam, kembali pada kesibukan masing-masing.
Kau sibuk dengan kemudimu, sedang aku sibuk dengan pikiranku.
Sebelumnya aku tak pernah membuat janji pada seseorang yang terhitung baru kukenal.
Lucunya, hari itu aku melakukannya, bahkan berusaha untuk menepatinya.
Aku mengingatnya dengan sangat baik.


(Aksaramerta, 2017)

Minggu, 29 Januari 2017

Satu, Dua, Tiga

Satu, dua, tiga..
Ah! Tidak, tidak..
Satu, dua, tiga..
Astaga! Tidak, jangan..

Satu, dua, tiga..
Ah! Kumohon, cukup..
Satu, dua, tiga..
Baiklah, baiklah..

Satu, dua, tiga..
Baik, aku kalah..
Satu, dua, tiga..
Ah! Biarlah..



Samarinda, 29 Januari 2017
Pukul 01.10 WITA
© Aksaramerta

Sabtu, 28 Januari 2017

Puisi (Katanya)

Carut
Marut
Kusut
Dasar curut!

Cekat
Debat
Sesat
Kau memang bangsat!

Aku tak bisa berhenti
Padahal aku bisa mati
Oh, mana kau peduli!
Memangnya siapa aku ini?!

Carut
Marut
Kusut
Aku kalut!

Saut
Raut
Kerut
Pikiranku kusut!

Tertawa!
Ini puisi macam apa?
Oh, aku pasti gila!
Hah! Peduli apa?!



Samarinda, 28 Januari 2017
Pukul 01.52 WITA
© Aksaramerta

Senin, 23 Januari 2017

Pertanyaan

Kau hilang bersama pertanyaan
Yang belum sempat kau utarakan
Hanya sempat niat kau ungkapkan
Tapi tak pernah dari kepalamu kau keluarkan
Membuatku kacau berantakan
Mengira-ngira apa yang akan kau tanyakan
Jika waktu terulang, andaikan..
Jika saat itu aku tak mengalihkan..
Akankah kudengar tanya yang 'kan kau ajukan?
Siapkah aku dengan jawaban?
Sial! Aku bisa mati penasaran!


(Samarinda, 2017)
© Aksaramerta

Hujan dan Rindu




Rabu, 04 Januari 2017

Perempuan di Pelabuhan

Dua ribu tujuh ratus sore berlalu
Dan perempuan itu selalu ada di situ
Orang-orang melihatnya pilu
Betapa gigih penantian si gadis ayu
Tanpa ia pernah tahu
Kapal kekasihnya karam di lautan
Tapi jasadnya tak diketemukan
Yang ada bangkai kapal rongsokan
Maka ia tetap bertahan
Setiap sore di pelabuhan
Menunggu dengan penuh harapan
Seperti yang pernah kasihnya janjikan
Akan pulang saat langit kemerahan
Semua sudah coba beritahu
Tapi dia tetap membatu
Ia pulang saat langit mulai kelabu
Namun tiap sore ia selalu tepat waktu
Kembali di situ
Menunggu..
Menunggu..
Penantiannya kini berlalu
Ia dan kekasihnya telah bertemu
Orang-orang di pelabuhan termangu
Sambil mengerumuni tubuh yang telah kaku

Samarinda, 4 Januari 2016
Pukul 07.33 WITA
© Aksaramerta