Rumahku dibakar oleh tuannya sendiri.
Menjadikan aku gelandangan yang hilang arah.
Ntah di mana menetap untuk berlindung,
sedang badai tak kunjung rampung.
Sesekali kutengok reruntuhannya,
mengenang pernah ada bahagia yang sangat di sana.
Pernah sang tuan coba kembali;
memungut puing-puing sisa rumah kami
yang kini tinggal abu.
Di tempat sang sama, ia bangun kembali rumah,
dari keping puing yang ia jamah..
"Ayo pulang", katanya di depan pintu,
menyilakanku untuk masuk.
Aku ragu.
Bagaimana aku yakin rumah ini akan kokoh,
sedang ia dibangun dari puing-puinh sisa pengkhianatan?
Aku memilih pergi, menggelandang di tengah badai;
tak ingin dihantui rasa takut
bahwa rumah itu akan kembali runtuh sewaktu-waktu
dan akan menimpaku.
Aku ingin pulang, aku ingin berlindung;
menghangatkan diri dari kerasnya badai.
Hanya saja, kini aku gelandangan; kini aku tak punya rumah.
Aku dingin, aku menggigil sendirian.
©Aksaramerta
03/05/18 (6.23 p.m)
WITA