Kamis, 13 Desember 2018

Hari Ini

Dengan siapa aku bersanding nanti
Biar kelak jadi urusanku sendiri
Dan untuk saat ini
Mari nikmati waktu yang kita miliki
Karena masa ini tak 'kan terulang dua kali
Denganmu, aku bahagia hari ini



©Aksaramerta
13/12/18 (10.59 p.m)
WITA

Rabu, 05 Desember 2018

Kelut-Kemelut

Aku terkejut saat tersadar, ternyata baru kemarin percakapan via telepon yang dibumbui tangis histeri. Rasanya telah seminggu dan ini bukan kias atau metafora seperti kebanyakan lagu.
Rasanya benar-benar seperti telah seminggu. kesadaranku soal waktu mengabur.
Bagaimana tidak? Jika sehari-harinya saja aku terbiasa bercanda, tertawa, bercerita, dan bersukaria denganmu; kini sehari tanpamu, pun kabar darimu. Aku kesepian.
Baru siang tadi aku menangis di parkiran kampus sesaat setelah kendaraanku terparkir. Tangisan yang telah kutahan semenjak di jalan.
Aku harus menjaga kesadaranku selama mengemudiagar pandanganku tidak buram oleh air mata yang memupuk mata, maka kutahan tangisku sejadi-jadi.
Begitu tiba, mataku sudah tak mampu membendung banjiran air mataku, pun hatiku bergemuruh; jantungku bertabuh kencang membuat dada ini ngilu bukan main.
"Aku rindu kamu," kataku setengah menjerit di sela tangisanku.
"Aku ingin kamu," begitu lagi kataku.
Aku berharap ditolong, namun tak ada yang menolong.
Selalu begitu, pikirku:
Setiap kali patah hati hebat melanda, aku selalu sendirian tanpa tempat berkeluh kesah. Aku ketakutan akan berpikir tentang kematian.
Aku ingin kau datang.
Aku ingin kau selamatkan.



©Aksaramerta
05/12/18 (11.10 p.m)
WITA

Jumat, 16 November 2018

Pesakitan

Hari-hariku gamang
Segalanya meremang
Air mata tak berlinang
Hanya jiwaku gersang

Aku seperti pesakitan
Yang menunggu vonis datang
Dari balik sel tahanan
Memohon segera dapat panggilan

Hukum mati sekalian!
Karena aku sudah tak tahan
Hidup di tengah ketidakpastian
Menunggu hari pembebasan

Tuan, kapan hariku tiba?
Di sini aku merana
Jatuhkan saja vonis anda
Karena begini aku sengsara


©Aksaramerta
16/11/18 (10.58 p.m)
WITA

Sabtu, 13 Oktober 2018

Bicara Pada Puisi

Selamat malam puisi
Saat ini aku sepi
Tapi rasa enggan menangisi
Sedang enggan sendiri menyepi

Puisi, malam ini kuhabisi
Dengan tiada siapa di sisi
Dengan drama yang mulai basi
Dan perasaan mulai membesi

Kata mereka kami serasi
Mereka hanya lihat satu sisi
Mereka hanya sibuk berpresepsi
Maka itu aku berpuisi

Dengan puisi aku terisi
Dengan bebas berkreasi
Dengan atau tanpa tendensi
Malam ini aku berpuisi



©Aksaramerta
13/10/18 (2.18 a.m)
WITA

Minggu, 12 Agustus 2018

Kita (Diam-Diam)

Diam-diam aku mengamini segala doa baik yang ditujukan pada kita;
bukan hanya tentang aku atau kamu.
Diam-diam aku sangat berharap bahwa mukjizat itu benar-benar ada;
menyentuh segala golongan, bahkan yang tergelap.
Diam-diam aku berharap waktu berputar kembali di saat entah;
sebelum cawan terisi atau sebelum menenggak isinya.
Diam-diam aku merasa sedih dan malu, bahkan pada tuhanku sendiri;
yang tiba-tiba menjadi khusyu berdoa dan memohon.
Diam-diam aku sangat mensyukuri dan penuh akan kebanggaan;
aku dekat dan mengenalmu.
Diam-diam aku menatapmu dengan mata penuh binar
sambil hatiku penuh harap pada Sang Mahaku;
saat itu kau tak menyadari karena membelakangiku.
Diam-diam aku yang pelupa ini teringat dengan sangat detail tentang awal pertemuan;
entah yang pertama, entah yang kedua.
Diam-diam aku yang arogan ini sangat penuh syukur;
saat itu aku tidak angkuh seperti biasanya.
Diam-diam aku selalu menyelipkan doa pada setiap peluk yang kuberikan;
"semoga selalu dapat seperti ini," kataku.



©Aksaramerta
12/08/18 (4.36 p.m)
WITA

Rabu, 08 Agustus 2018

Premonition

Bulan Juli lalu, aku merisaukan tentang Agustus;
terbangun dengan peluh dan air mata,
juga dengan perasaan akan kehilangan
atau ditinggalkan.
Waktu berjalan, aku melupa.
Mereka bilang, "tak 'kan kenapa".
Bulan Agustus datang.
Ia menyapa dengan tamparan;
mengingatkanku yang pernah abai.
Aku yang lena.
Mereka salah;
Bulan ini Agustus dan aku risau.
Bulan ini Agustus dan aku galau.
Bulan Agustus, aku kehilangan.



©Aksaramerta
08/08/18 (3.10 a.m)
WITA

Selasa, 07 Agustus 2018

Senjang

Aku harus membiasakan diri
Untuk sendiri dan menyepi
Berteman dengan sepi
Yang kini meliput hari

Aku harus mawas diri
Beri pengertian pada hati
Yang tinggalah sendiri kini
Tanpa sosok yang menemani

Karena mulai hari ini
Tak ada lagi yang temani
Pun tak ada yang menanti
Dan seseorang untuk ditemani;

atau untuk dinanti..

Karena kini aku sendiri
Karena kini aku sepi
Tinggalah menyendiri
Tinggalah menyepi



©Aksaramerta
07/08/18 (6.01 p.m)
WITA

Jumat, 03 Agustus 2018

Kelabu

Telah lelah giat
Sudah habis kiat
Bukan juga kuat
Hanya meliat

Tak kulihat niat
Tak tampak pun iktikad
Yang terpampang nikmat
Asyik menebar pikat

Tak kuat dicobai
Bertuankan emosi
Kuakui lemah diri
Menyendiri

Sedih
Pedih
Rintih
Tertatih


©Aksaramerta
03/08/18 (5.47 p.m)
WITA

Senin, 23 Juli 2018

Intermezzo

Orang menangkap apa yang kamu paparkan,
bukan apa yang kamu pikirkan;
Apa yang kamu paparkan,
itulah yang akan orang simpulkan.

Pikiran manusia rumit dan kompleks;
menjadi sulit bagi manusia lain untuk selalu
memahami apa-apa yang hanya tersirat,
bukannya tersurat.

Itulah mengapa, dalam sebuah buku,
redaksinya dibuat seejlas mungkin
untuk menghindari keambiguan atau
kesalahpahaman makna.
Penulis akan memaparkan apa-apa
yang ada di pikirannya secara gamblang
agar pembacanya mampu menyelami
isi pikirannya.



©Aksaramerta
23/07/18 (10.22 p.m)
WITA

Kamis, 03 Mei 2018

Tuna

Rumahku dibakar oleh tuannya sendiri.
Menjadikan aku gelandangan yang hilang arah.
Ntah di mana menetap untuk berlindung,
sedang badai tak kunjung rampung.
Sesekali kutengok reruntuhannya,
mengenang pernah ada bahagia yang sangat di sana.
Pernah sang tuan coba kembali;
memungut puing-puing sisa rumah kami
yang kini tinggal abu.
Di tempat sang sama, ia bangun kembali rumah,
dari keping puing yang ia jamah..
"Ayo pulang", katanya di depan pintu,
menyilakanku untuk masuk.
Aku ragu.
Bagaimana aku yakin rumah ini akan kokoh,
sedang ia dibangun dari puing-puinh sisa pengkhianatan?
Aku memilih pergi, menggelandang di tengah badai;
tak ingin dihantui rasa takut
bahwa rumah itu akan kembali runtuh sewaktu-waktu
dan akan menimpaku.
Aku ingin pulang, aku ingin berlindung;
menghangatkan diri dari kerasnya badai.
Hanya saja, kini aku gelandangan; kini aku tak punya rumah.
Aku dingin, aku menggigil sendirian.



©Aksaramerta
03/05/18 (6.23 p.m)
WITA

Selasa, 24 April 2018

Berawai

Pernah coba tinggikan ego
Dapati rasa tak dapat dinego
Berpikir kini aku t'lah utuh
Temukan hati meretak-runtuh
Melihat jalan yang cipta rindu
Terdengar parau nyanyian sendu
Kukira rasa tak 'kan tersentuh
Nyatanya kini aku butuh
Meski...
Sia-sia harapkan kembali
Rasa percaya tak dapat dibeli
Karena kamu t'lah khianati
Saat dulu kunanti-nanti



©Aksaramerta
24/04/18 (11.40 p.m)
WITA

Minggu, 08 April 2018

+62341

Deru kendaraan mengisi siang
Dan ramai dengan lalu-lalang
Kesibukan yang belum usang
Diseliri dingin yang gersang

Sedang hidup adalah malam
Dengan sibuk yang telah redam
Digantikan suasana tenteram
Dan sorot lampu temaram

Itu baru taman
Alun-alun tempat hiburan
Belum lagi destinasi liburan
Dan juga tempat kulineran

Di alun-alun nanti
Kita akan berhenti
Sambil berhaha-hihi
Memberi makan merpati; lalu...

Pergi susuri jalan
Dari Tugu hingga Veteran
Kunjungi berbagai Coban
Dan mampir ke Pos Ketan; atau...

Dari Ijen mula-mula
Kita menuju ke Mandala
Nonton film murah di sana
Kemudian bercumbu ria,

bagaimana?



©Aksaramerta
08/04/18 (12.32 p.m)
WITA

Selasa, 20 Maret 2018

Cinderella

Tuanku sedang senang
bersama nonanya, tentu.
Aku ini, Nona, hanya Upik Abu
yang sibuk menyula debu,
memulas rak lemari kayu,
dan merapikan ranjang Tuanku,
yang baru semalam saja
ditidurinya bersama Nona.
Oh, tapi tak apa, Nona..
Kau tenang saja!
Aku hanya perlu menunggu;
begitu Nona pulang dan berlalu,
Tuanku akan mengunci pintu,
lalu asyik bercumbu
hingga napas kian memburu.
Saling bertelanjang
di atas ranjang yang sama,
yang ditiduri oleh Nona;
denganku, tentu saja..


©Aksaramerta
20/03/18 (00.14 a.m)
WITA

Senin, 19 Maret 2018

Sembilu Lama

Tuhan, apa bosan itu syarat?
Jika iya, cukupkanlah kini,
sebab aku bosan dan juga menderita.
Lihat, Tuhan, hamba ini,
hambaMu yang lemah ini;
betapa lemah hamba yang cengeng,
terlebih pengeluh.
Bahkan ia keluhkan bosannya mengeluh,
sebab tiadalagi lainnya.
Pun manteranya yang biasa tenangkan ia,
kini rasanya hampa.
Hampir seminggu, dia simpan derita
sambil was-was menjaga
dengan harap tiada kan tahu,
termasuk Tuhannya.
Padahal,
katanya,
Tuhan Maha Tahu



©Aksaramerta
19/03/18 (7.20 p.m)
WITA

Jumat, 09 Februari 2018

Aku Rindu; Aku Bosan

Aku rindu dicumbui
tanpa iktikad dikelabui
tanpa rasa batin dibui;
aku merasa dimaui

Aku bosan menyendiri
muak dengan luka sendiri
ringkih dan tak mampu sendiri;
aku merasa dikebiri

Aku rindu berkohesi
dengan penuh esensi
menyaru jadi serasi; kini
aku merasa diabduksi

Aku rindu dianjungi
aku merasa disayangi;
Aku bosan diimingi
aku merasa dicurangi


©Aksaramerta
09/02/18 (3.47 a.m)
WITA

Minggu, 04 Februari 2018

Tuan(ku)

Tuan,
adakah persimpangan
yang di salah satu ujungnya adalah dirimu?
Jika iya, beritahu;
ke mana kaki harus melaju,
sebab menjumpamu adalah inginku

Tuan,
sampaikah segala doa yang kupanjat
di sepertiga malam terakhirku?
Sebab yang kutemui hanya jalan buntu
dan yang kulihat hanya abu-abu,

tanpa kamu...

Tuan,
ya, kamu, tuanku,
mengapa engkau meragu?

Atau justru ragu ini milikku?
--yang selalu tergugu ketika itu tentangmu.


Samarinda, 2018
Dari aku,
Puan yang bahkan menemukanmu pun tak mampu

Rabu, 31 Januari 2018

Pelarian

Aku; lintasanmu berlari
'Tuk kabur dari segala penat
Meninggalkan beban yang mengikat
Menjauh dari duka yang pekat

Meski koyak, kau terus melesat
Melampiaskan getar amarah
Terus melangkah dengan susah payah
Melawan ego yang ingin menyerah

Suatu saat kau sudah lelah
Bukan padaku kau 'kan menepi
Meninggalkan aku dalam sepi
Karena bukan 'ku tempatmu berhenti



©Aksaramerta
31/01/18 (9.42 p.m)
WITA