Senin, 20 Juni 2016

Parasit Kusut

Datang padaku hanya saat kau butuh saja.
Cari aku hanya saat kau perlu saja.
Siapa aku?
Ya, aku bukan siapa-siapa,
Kecuali hanya pemenuh kebutuhan dan keperluanmu saja.
Kau tak paham?
Tidak apa, pelan-pelan saja.
Mari pikirkan ulang.
Kau bosan, datang padaku.
Kau sepi, lalu kau cari aku.
Kau ingin perhatian, bahagia, mudah saja;
Ada aku.
Jadi, kau sudah paham?
Ah, kurasa sangat paham.
Bahkan tanpa berpikir ulang.
Naifnya aku!



Samarinda, 20 Juni 2016
© Aksaramerta

Sabtu, 18 Juni 2016

Elegi Tentang Jarak

Apa yang dapat diandalkan saat justru jarak yang ada di depan mata, bukannya kamu?
Apa yang dapat digunakan untuk melawan jarak yang sedang punya kuasa?
Kalau aku, seharusnya itu komunikasi.
Tapi bahkan komunikasi tak mampu.
Tapi bahkan komunikasi menyerah pada sang jarak yang maha kuasa.
Atau kau sendiri yang melemahkannya,
Lalu bersekongkol dengan jarak untuk mendorongku semakin jauh?
Atau bahkan kau selicik itu membunuh komunikasi, mengambinghitamkan jarak, lalu menenggelamkanku?
Kau tahu rasanya tenggelam?
Sesak!



Samarinda, 18 Juni 2016
© Aksaramerta

Rabu, 08 Juni 2016

Afeksi

Tak berharap menjadi sesuatu yang mewah.
Aku hanya butuh menjadi sesuatu yang tenang.
Seperti air tanpa arus, seperti angin sore yang berhembus.
Melihatmu, aku mendapatkannya.
Di wajahmu, aku melihat air muka yang tenang.
Namun aku takut membuat riak.
Maka aku hanya memperhatikanmu dari jauh
Dan ikut menjadi sesuatu yang tenang.
Bersamamu di tempat terpisah,
Aku berusaha mengimbangimu...



Samarinda, 8 Juni 2016
© Aksaramerta

Jumat, 03 Juni 2016

Perang Batin

Aku selalu suka caramu merasa bersalah,
Kemudian meminta maaf.

Aku selalu suka caramu menunjukkan sesal,
Kemudian, lagi, meminta maaf.

Tapi aku benci melihatmu merasa bersalah,
Lalu meminta maaf.

Tapi aku benci melihatmu menyesal,
Lalu, lagi, meminta maaf.

Apakah kamu juga suka caraku menganggap semua normal, tak ada yang salah, dan berkata bahwa tak seharusnya kamu meminta maaf?

Ataukah kamu juga benci caraku bersikap seolah semua baik-baik saja, itu bukan kesalahanmu, dan kamu tak bersalah?

Aku selalu suka caramu merasa bersalah dan menyesal.
Membuatku merasa berarti,
Membuatmu terasa rendah hati.

Di sisi lain,
Aku selalu benci melihatmu merasa bersalah dan menyesal.
Merasa itu keegoisanku,
Terasa itu melemahkanmu.

Aku suka sekaligus benci melihatmu
Merendahkan dirimu dan meminta kepadaku.




Samarinda, 3 Juni 2016
© Aksaramerta