Sabtu, 22 Agustus 2015

Cerita Patah Hati

Aku pernah mencintai dengan sepenuh hati, jatuh sejatuh-jatuhnya, tetapi dicampakkan.
Aku pernah berharap sesuatu menyadarkannya, tetapi nihil.
Dia pergi, aku sendiri.
Ternyata dari awal kita memang tak sama, baik mula maupun tuju.
Entah siapa yang dulu memaksa hingga aku dan dia jadi "kita", tetapi kini aku yang menyesal. Sendiri. Entah dia?
Dia tidak tau betapa aku rapuh, yang dia kira aku tak peduli. Sebegitu dalam dia tersimpan di hatiku, hingga saat ia pergi dari sana, rasanya perih. Seperti kaki yang menginjak duri dan durinya tertancap sangat dalam, saat duri itu dilepaskan, maka sangat terasa perih lukanya.
Semenjak itu aku belum pernah benar-benar mencinta lagi, tetapi masih terus berharap.
Ya, terus berharap agar jika akhirnya aku kembali jatuh cinta, setidaknya aku tak akan kembali menyesal.

Jumat, 26 Juni 2015

Dia (Candu)

Aku bersumpah, kini lelaki itu yang mengisi ruang itu, ruang di hatiku. Dia pencipta tawa dan senyumku, dia yang kusuka segala tentangnya; fisiknya, suaranya, caranya, semuanya.
Dia seperti mempunyai sihir, dengan mudahnya meluluhkan siapa saja. Tak perlu kujelaskan bahwa aku salah satu yang berhasil luluh dibuatnya.
Dia candu dan aku pecandunya.
Seperti tak ada satu hari pun tanpa sesuatu tentangnya, bahkan tak bisa. Seperti ada yang kurang.
Sebut aku gila, sebut ini tak masuk akal, tapi dia memang telah menginfeksiku. Aku luluh, aku lumpuh, dan mungkin aku berlebihan. Tapi percayalah, ini sungguhan.
Hanya saja, ia sangat jauh. Begitu jauhnya hingga tak terjangkau. Sulit menggapainya, bahkan mustahil. Ini jatuh yang sakit, tapi aku enggan untuk bangkit.
Kini kau boleh sebut aku bodoh untuk ini; mencintai seseorang yang sangat nyata bahwa tak mungkin tersentuh, apalagi terengkuh.
Dia terlalu hebat dengan pesonanya dan segala yang ada padanya, sedangkan aku begitu lemah terlebih jika yang berhubungan dengannya.

Senin, 02 Februari 2015

Tuhan

Tuhan,
Aku punya mimpi untuk nyataku
yang aku yakin, Kau tahu akannya
yang aku sadar, mimpi itu tak kan nyata
tak akan pernah..

Tuhan,
Saat ini aku merasa di sudut
yang menjadi peka akan sugesti negatif
yang entah sungguhan, atau ini hanya aku
aku yang terlalu perasa

Tuhan,
Sudi kah engkau mendengarku?
Mendengar curahan dariku kepada Mu,
yang lebih sering tentang keterpurukan
kisah sedih yang itu-itu lagi

Tuhan,
Keberatan kah jika kali ini aku
bercerita lagi yang lagi-lagi tentang nyanyian pedih?
Ku harap tak begitu
dan tangan itu, semoga tetap terulur..

Sisakan sedikit saja,
tempat di sana, di singgasana agung
dan biarkan aku duduk merasakannya,
sambil aku mulai ceritaku lagi, Tuhan..

Cerita sedih, tentang manusia
yang diperbolehkan bermimpi,
namun tak boleh menjadikannya nyata
bahkan untuk berharap, pun..