Aku pernah mencintai dengan sepenuh hati, jatuh sejatuh-jatuhnya, tetapi dicampakkan.
Aku pernah berharap sesuatu menyadarkannya, tetapi nihil.
Dia pergi, aku sendiri.
Ternyata dari awal kita memang tak sama, baik mula maupun tuju.
Entah siapa yang dulu memaksa hingga aku dan dia jadi "kita", tetapi kini aku yang menyesal. Sendiri. Entah dia?
Dia tidak tau betapa aku rapuh, yang dia kira aku tak peduli. Sebegitu dalam dia tersimpan di hatiku, hingga saat ia pergi dari sana, rasanya perih. Seperti kaki yang menginjak duri dan durinya tertancap sangat dalam, saat duri itu dilepaskan, maka sangat terasa perih lukanya.
Semenjak itu aku belum pernah benar-benar mencinta lagi, tetapi masih terus berharap.
Ya, terus berharap agar jika akhirnya aku kembali jatuh cinta, setidaknya aku tak akan kembali menyesal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar