Senin, 22 Februari 2016

Surat Untuk N

Aku ingin kau tahu, bahwa sampai saat ini masih kamu.
Tidak dia, tidak mereka, tidak yang lain; Masih tetap kamu. 
Selepas dia, kau tetap tidak padaku. Tetap tidak bagiku. Tidak untukku.
Kadang aku merasa aku sudah benar-benar ikhlas. Kadang aku merasa aku sudah benar-benar tulus.
Tapi tidak.
Ternyata aku masih berharap imbalan. Masih berharap balasan. Masih berharap sambutan.
Aku tahu rasa ini tak akan kau sambut. Kau pun tahu. Bahkan mereka.
Mereka yang menonton kisah kita; Yang menonton kisah aku.
Menonton aku yang diam-diam perih. 
Menonton aku yang menangis-merintih.
Menonton aku yang menjerit tertahan agar tak terdengar.
Aku yang ternyata sangat lemah.
Sungguh baru kamu;
Baru kamu yang membuat batin dan logikaku berperang hebat.
Baru kamu yang membuatku merasa betapa menyedihkannya aku.
Ya, karena jika itu tentangmu, entah mengapa aku langsung merasa bahwa aku sangat menyedihkan.
Apa pun yang tentangmu selalu membuatku sangat sensitif.
Sangat rentan. Seperti kaca. Rapuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar